Analisis

Menerapkan Skema Insentif Berbasis Kinerja di Indonesia

Dari input budidaya ke hasil terverifikasi dengan model pay-for-results

Dibalik inisiatif aes

Ekosistem Sunwangi membuktikan bahwa pertanian berkelanjutan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas gizi. Berangkat dari fondasi tersebut, Agri Environment Scheme (AES) dikembangkan melalui penilaian lingkungan berbasis sains, pemantauan digital, dan insentif berbasis kinerja untuk mempercepat penerapannya dalam skala luas.

Apa itu AES?

AES (Agri Environment Scheme) adalah kerangka regulasi dan insentif untuk mengarahkan praktik budidaya ke sistem yang lebih ramah iklim.

Skema ini fokus pada kesehatan lahan, indikator keanekaragaman hayati, dan potensi simpan karbon agar dampak di lapangan bisa dilihat dengan jelas.

Setiap praktik diukur secara konsisten supaya terbentuk catatan transparan seperti ledger, jadi progres keberlanjutan tidak berhenti di klaim saja.

Evaluasi 1 tahun / 3 musim tanam

Setiap peserta menjalani evaluasi di tiga musim berbeda agar datanya lebih stabil, tidak hanya bergantung pada satu musim panen.

Ringkasan

Ikhtisar Dampak Iklim

Praktik budidaya yang lebih presisi membantu menekan emisi, mengurangi risiko lingkungan, dan memperkuat keberlanjutan hasil pertanian.

Setiap musim, petani melihat dampak nyata pada biaya input, kualitas panen, dan keberlanjutan lahan.

186++tCO2e

pengurangan emisi karbon

Hasil yang diharapkan

Perluasan Budidaya Berkelanjutan

Perluasan Budidaya Berkelanjutan

Menskalakan pertanian berkelanjutan melalui AES

  • 1.235 ha di bawah pengelolaan AES pada 2028

  • Perluasan bertahap dari 110 ha → 375 ha → 750 ha

  • Peningkatan adopsi

Optimasi Produktivitas & Input

Optimasi Produktivitas & Input

Menghasilkan lebih banyak dengan input lebih sedikit

  • Produktivitas padi yang lebih tinggi

  • Penggunaan pestisida 50% lebih rendah

  • Penggunaan pupuk sintetis 30% lebih rendah

Keterlibatan Petani Kecil

Keterlibatan Petani Kecil

Memberdayakan petani untuk adopsi jangka panjang

  • Petani dilatih dan diikutsertakan ke AES

  • Partisipasi aktif meningkat

  • Adopsi praktik AES yang lebih luas

"Kami tidak hanya menekan biaya pupuk, tapi hasil panen juga lebih stabil dari musim sebelumnya."

Petani pilot, Banyuwangi

Analisis

Alur Sistem Penilaian AES

3 evaluasi per siklus × 3 musim panen

1

Field Assessment

Penilaian lapangan di tiga fase budidaya.

  • Pra Budidaya
  • Saat Budidaya
  • Pasca Budidaya
2

Data Terkumpul

Data lapangan dan sensor dikumpulkan.

  • Soilify Sensor
  • Field Assessment
3

Diproses & Dikelola

Data diolah menjadi Score, Tier, dan insentif.

  • AES Dashboard
  • Mesin Scoring
  • Tier Petani
  • Insentif

Output

Score & Report Card

Petani menerima Score plus rapor akhir tahun yang mencerminkan kesehatan tanah & biodiversitas.

Perbaikan Berkelanjutan

Umpan balik mendorong perbaikan berkelanjutan, lalu siklus kembali ke penilaian pra-budidaya.

Kembali ke Field Assessment

Analisis

Simulasi Awal Reward

Skema ini menjaga reward tetap objektif dan transparan, sekaligus memberi jalur kenaikan level yang jelas bagi petani.

Standar Skor X

1 Juta/tahun

Standar Skor Y

2 Juta/tahun

Standar Skor Z

3 Juta/tahun

Ekosistem kolaborasi

Kolaborasi Para Pihak

Program berjalan melalui peran yang saling melengkapi, dari pendampingan, regulasi, riset, hingga implementasi di lapangan.

1

NGO

PARADIGMA, CIPS

2

Pemerintah

Kabupaten Banyuwangi, BULOG, Bank Indonesia

3

Akademisi

IPB, Poliwangi

4

Swasta

Pandawa Agri Indonesia, Danone